Dec 27, 2009

Ramai bisnis Tokek?

Tokek adalah nama umum untuk menyebut cecak besar. Ada beberapa jenis tokek, namun istilah tokek biasanya merujuk kepada jenis tokek rumah berikut.

Tokek rumah adalah sejenis reptil yang masuk ke dalam golongan cecak besar, suku Gekkonidae. Tokek rumah memiliki nama ilmiah Gekko gecko (Linnaeus, 1758). Dalam bahasa lain hewan ini disebut sebagai téko atau tekék (bahasa Jawa), tokék (bahasa Sunda), dan tokay gecko atau tucktoo (bahasa Inggris).


Cecak yang berukuran besar, berkepala besar. Panjang total mencapai 340 mm, hampir setengahnya adalah ekornya.

Dorsal (sisi punggung) kasar, dengan banyak bintil besar-besar. Abu-abu kebiruan sampai kecoklatan, dengan bintik-bintik berwarna merah bata sampai jingga. Ventral (perut, sisi bawah tubuh) abu-abu biru keputihan atau kekuningan. Ekor membulat, dengan enam baris bintil; berbelang-belang.

Jari-jari kaki depan dan belakang dilengkapi dengan bantalan pengisap yang disebut scansor, yang terletak di sisi bawah jari. Gunanya untuk melekat pada permukaan yang licin. Maka, dari sisi atas jari-jari tokek nampak melebar.

Ekologi, perilaku dan penyebaran
Tokek yang kerap ditemui di pohon-pohon di pekarangan dan di rumah-rumah, terutama di pedesaan dan tepi hutan. Suara teritorialnya yang keras dan khas, gek-koo.. gek-koo…, menjadi dasar penyebutan namanya dalam berbagai bahasa.

Tokek rumah memangsa aneka serangga, cecak lainnya yang lebih kecil, tikus kecil dan mungkin juga burung kecil. Seperti bangsa cecak lainnya, tokek aktif berburu terutama di malam hari. Terkadang tokek turun pula ke tanah untuk mengejar mangsanya. Di siang hari, tokek bersembunyi di lubang-lubang kayu, lubang batu atau di sela atap rumah.

Tokek melekatkan telurnya, yang biasanya berjumlah sepasang dan saling berlekatan, di celah-celah lubang pohon; retakan batu; atau jika di rumah, di belakang almari atau di bawah atap. Tempat bertelur ini kerap pula digunakan oleh beberapa tokek secara bersama-sama. Telur menetas setelah dua bulan lebih.

Hewan ini tersebar luas mulai dari India timur, Nepal, Bangladesh, lewat Myanmar, Tiongkok selatan dan timur, Thailand, Semenanjung Malaya dan pulau-pulau di sekitarnya, Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, Lombok, Flores, Timor, Aru dan Kepulauan Filipina (Manthey & Grossmann, 1997: 232).



Peringatan
Hati-hati, tokek rumah kerap menggigit jika ditangkap. Bila dipegang, tokek otomatis akan mengangakan mulutnya; siap untuk menggigit penangkapnya. Gigitannya sangat kuat, otot-otot rahangnya seakan mengunci; sehingga muncul pemeo bahwa gigitan tokek tak akan dapat lepas kecuali jika ada petir menyambar. Anggapan yang tidak ada kebenarannya, kecuali bahwa memang betul gigitannya sukar dilepaskan.

Ada cara yang mudah untuk menipu tokek agar tak tergigit ketika memegangnya. Letakkan sesuatu yang agak lunak tetapi liat di mulutnya yang menganga, seperti sepotong ranting atau perca kain yang dilipat-lipat, yang tidak mudah putus. Tokek akan menggigitnya dengan sekuat tenaga, sehingga si penangkap aman untuk mengamati, memeriksa dan mengukur hewan itu. Tokek tak akan melepaskan barang itu selama ia masih dipegang orang; namun manakala tokek dibebaskan, ia akan segera melepaskan barang yang digigitnya dan berlari meninggalkannya.


Khasiat Tokek
AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang terjadi karena menurunnya daya tahan tubuh yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Sampai saat ini, para ilmuwan di berbagai negara terutama negara berteknologi maju belum berhasil menciptakan obat penyembuh AIDS. Yang dihasilkan hanya sebatas obat yang memperlambat penyebaran virus atau dikenal dengan nama Anti Retro Viral (ARV).
Karena obat ARV tersebut tidak bisa menyembuhkan AIDS, tentu saja hasilnya kurang memuaskan. Pasalnya, para pengidap HIV positif sangat bergantung pada obat ARV guna memperlambat munculnya berbagai gejala penyakit (AIDS).

Di tengah besarnya harapan para pengidap HIV positif terhadap obat yang dapat menyembuhkannya, berbagai kabar burung seputar obat penyembuh AIDS berkembang di masyarakat.

Saat ini, beredar pula cerita dari mulut ke mulut tentang khasiat tokek yang dapat menyembuhkan AIDS. Entah dari mana asalnya cerita tersebut, yang jelas dampaknya membuat harga tokek melambung hingga mencapai jutaan rupiah.

Semula, binatang melata ini diyakini dapat menyembuhkan penyakit kulit, tipes, asma dan bisa sebagai obat awet muda. Harga tokek tersebut hanya Rp100 sampai Rp200 ribu per ekor.

Ketika berkembang mitos bahwa tokek dapat menyembuhkan AIDS, spontan harganya melonjak menjadi Rp2,5 juta per ons. Masyarakat Kota Medan pun berlomba-lomba untuk memburu tokek.

Seorang warga Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun mengakui banyak masyarakat mulai berburu tokek untuk dijual. "Menurut cerita orang, tokek bisa menyembuhkan AIDS. Harganya bisa mencapai Rp3 juta per ekor," ujarnya.

Pengobatan tradisional
Di tempat sementara itu, Kadis Kesehatan Kota Medan dr. Umar Zein, DTM&H, SpPD-KPTI berpendapat, belum ada dasar penelitian yang menunjukkan bahwa tokek bisa menyembuhkan AIDS.

Tapi, jika ada pasien AIDS yang bisa sembuh karena minum atau makan daging tokek tersebut, mungkin ini bisa dijadikan rekomendasi atau pilihan lain sebagai obat yang berkhasiat. "Jika memang benar bisa menyembuhkan, kita bisa beri surat izinnya dan sebagai rujukan bagi pasien AIDS," ujarnya.

Menurut Umar Zein, umumnya masyarakat Indonesia cenderung mempercayai pengobatan secara tradisional yang menggunakan obat berasal dari tumbuhan, bebatuan dan hewan meski belum dilakukan pengujian dan dibuktikan oleh penelitian kesehatan.

"Sistem pengobatan d Indonesia masih menjalankan pengobatan secara tradisional, walau belum ada pembuktiannya melalui penelitian. Memang ini sudah lama ada dan menjadi tradisi turun menurun," kata Umar Zein kepada wartawan di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu, menanggapi banyaknya bisnis penjualan hewan tokek yang dipercaya bisa menyembuhkan AIDS.

Umar Zein menjelaskan, pengobatan tradisional menggunakan tumbuh-tumbuhan sudah banyak diteliti dan hasilnya memang berkhasiat. Bahkan sekitar 90 jenis tanaman sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan dinyatakan boleh dikonsumsi.

Sedangkan untuk pengobatan tradisional yang menggunakan unsur hewan, hingga saat ini belum ada penelitiannya baik khasiat maupun efek samping yang ditimbulkannya. Namun masih banyak masyarakat yang memanfaatkan beberapa jenis hewan karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

"Nenek moyang kita memang pernah merasakan khasiatnya, seperti cacing yang digonseng katanya dapat menyembuhkan asma. Tradisi ini berkembang dari mulut ke mulut hingga tersebar dan dipercaya oleh masyarakat. Tapi kita kan belum tahu apakah ada efek sampingnya kelak, ini lah yang harus diuji dulu," jelasnya.

Di Sumut sudah ada Sentra Pengembangan Penelitian pengobatan Tradisional (SP3T). Namun, saat ini belum ada melakukan penelitian terhadap pengobatan yang menggunakan hewan. "Kita harapkan mereka segera melakukan penelitian terhadap hewan yang dijadikan untuk pengobatan, agar khasiat dan efek sampingnya diketahui masyarakat," demikian Umar Zein.

Manfaat Tokek Untuk Kesehatan

pengalaman lain..

“Dulu saya pernah ngalamin gatal-gatal di dikulit badan saya. Terus ada teman yang menganjurkan supaya saya makan daging tokek, saya ikutin anjurannya. Saya makan daging bakar tokek. Setelah beberapa kali makan, gatal saya hilang,” ujar Didih saat ditemui Kompas.com di kediamannya di Pancoran Mas, Depok, Jumat (25/9).

Sebelum merasakan efek daging tokek, Didih mengaku sering mendengar kabar perihal khasiat organ tokek bagi kesehatan manusia. Namun, karena bentuk dan coraknya yang menjijikan, Didih mengaku enggan mencobanya. “Tapi akhirnya saya coba juga. Siapa tahu sembuh, Alhamdulillah sembuh juga,” katanya.

Hal yang sama dialami Suryadi Cahyo Asmoro (37). Pria warga Cipedak, Ciganjur ini sempat stres selama berbulan-bulan karena anaknya semata wayang, baru berumur dua tahun menderita gatal-gatal di muka.”Muka anak saya jadi jelek,” akunya.

Sempat si kecil dibawanya ke dokter beberapa kali dan diberi obat, tapi hasilnya nihil. “Kata dokter akibat alergi, tapi gak jelas gitu,” jelasnya. Tiap kali diobati sembuh. Namun setelah obat habis, gatal-gatal itu kambuh dan membuat muka anaknya tidak cantik lagi.

Akhirnya dicobanya membeli abon dari daging tokek. “Untung anak saya mau karena memang enak. Beberapa kali dicoba,” jelasnya. Selanjutnya tokek bakar. Alhasil, muka si kecil hingga sekarang (sudah setahun) sudah bersih dan tampak cantik.

Selain daging, darah dan empedu tokek diyakini juga bisa menjadi obat. Namun, khusus darah dan empedu, baik Didih maupun Suryadi belum pernah mencobanya. “Yang saya dengar sih gitu (darah dan empedu tokek bisa menjadi obat). Tapi saya nggak tahu buat obat apa.” ujarnya.

Tokek adalah binatang yang memangsa aneka serangga, cicak lainnya yang lebih kecil, dan tikus kecil. Seperti bangsa cicak lainnya, tokek aktif berburu terutama di malam hari. Namun, hati-hati jika hendak menangkapnya. Karena, tokek kerap menggigit jika ditangkap.

Bila dipegang, tokek otomatis akan mengangakan mulutnya, siap menggigit penangkapnya. Gigitannya sangat kuat, otot-otot rahangnya seakan mengunci, sehingga muncul pemeo bahwa gigitan tokek tak akan dapat lepas kecuali jika ada petir menyambar. Anggapan yang belum terbukti kebenarannya, kecuali bahwa memang betul gigitannya sukar dilepaskan.


*dari berbagai sumber..

1 comments:

Man Kriwul said...

Saya ada tokek mas,bisa di lihat di blog saya
http://man-kriwul.blogspot.com

Post a Comment