Oct 6, 2009

Freelancer Desain & Tukang Soto pinggir jalan

Layaknya manusia yang lain, pagi tadi saya sarapan, sebagai sumber energi aktifitas 1/3 hari ini. Menu yang lolos seleksi dalam kompetisi di otak saya adalah "Soto Ayam". Sedangkan "brand" yang memenangkan pertarungan "Word of Mouth" dalam benak saya adalah Warung Soto pinggir jalan dekat alun-alun. Langsunglah saya bergegas tancap gas menuju warung tersebut. Sampai di sana, saya melihat bapak2 tua (penjual soto) langsung tersenyum manis (tentu lebih manis senyum Sandra Dewi) kepada calon cutomer-nya(saya), seoalah memberi kode "Selamat Datang", kemudian saya membalasnya dengan mengangguk.

Kemudian saya mendekat grobaknya, dia pun bertanya, "singgle ?". Sesaat dalam 3 detik saya bertanya dalam hati "maksudnya? bukankah ini warung soto! bukan biro jodoh" lha kok nanyanin singgle apa enggak?. Belum sampai saya menjawab, dia menjelaskan lagi "maksudnya... sendirian mas?" ohh.. setika saya langsung melepas nafas.. kirain mo di jodohin ma anaknya "Iya pak, satu aja"

Sampai di dalam warung, pikiran saya langsung berputar. Jika saya boleh mengibaratkan.. Penjual Soto di pinggir jalan adalah sebagai Freelancer, sedangkan Penjual Soto di Mall adalah penjual yang mempunyai izin dagang, legal, atau sebut saja ber-badan usaha. Tentu ada beberapa perbedaan diantara keduanya. Soto pinggir jalan mempunyai manajemen yg lebih sederhana, seorang customer/client bisa berhadapan langsung dengan bagian produksi, front office, sekaligus owner (penjual Soto). Sedangkan Soto Mall, mempunyai manajemen yang profesional, di depan ada GRO (Guest Reception Officer) untuk menyapa/mengajak calon pembeli, ada bagian produksi (dapur) di handle oleh koki, manager/direktur/pengelola sering tidak terlihat.

Ketika menjalani freelance (desain), seorang klien langsung berhadapan muka dengan saya, menjelaskan keinginannya, curhat perkara budget, negosiasi, dsb. Sama seperti Soto pinggir jalan, saya langsung bisa langsung order, bahkan meminta pesanan khusus seperti "sambal yang banyak", "ga pake kol", "kuahnya dikit", dsb dengan harga yang sama tertulis pada grobak soto-nya. Tentu sang pembeli merasa lebih nyaman dengan order "seenaknya", dengan harga miring, & rasa yang cukup puas!

Apakah hal tersebut bisa dilakukan pada Soto di Mall? tentu tidak bisa. Customer tidak bisa begitu saja masuk ke dapur. Restaurant dengan menajemen profesional, mereka sudah memiliki standard tinggi pada resep masakannya yg tidak bisa di modifikasi begitu saja oleh koki-nya. Bahkan cara pelayannya pun sudah ada SOP-nya (Standard Operation Procedure).

Ketika saya bekerja di Perusahaan Telekomunikasi, kemudian dalam suatu project kita menunjuk agency untuk membantu desain dalam sebuah dekorasi ruangan. Mereka datang dengan membawa konsep yang baik, kemudian sebelum "deal" mereka menjelaskan bahwa untuk memberikan sekian contoh desain, atau revisi suatu desain untuk sekian kali, kita berkewajiban membayar jasa atas konsep yang belum matang/"deal" tersebut. Ya! bagi perusahaan besar, itu prosedur profesional dan wajar2 saja. Namun bagi perusahaan/pihak yang meminimalisasi budget, memilih freelancer yang berkualitas bisa jadi alternatif pilihan yang lebih baik.

Sebaliknya, jika kita sebagai agency/ penyedia jasa desain (contohnya) bisa jadi dengan menerapkan dan memodifikasi model freelance dalam usaha kita, pasti akan lebih bisa bersaing dengan penyedia jasa lain yang sudah mapan.

Singkat kata, Freelance bisa jadi alternatif yang baik bahkan lebih baik jika kita cermat.

Bravo Freelancer!
/fendiaw

0 comments:

Post a Comment